Bahas AI dan Manusia, Think Talk : Jangan Sampai Teknologi Mengambil Alih Cara Berpikir.
Spread the love

Jakarta !!!! Berita Terang.com — Perkembangan Artificial Intelligence (AI) semakin memengaruhi kehidupan manusia, mulai dari pekerjaan, pendidikan hingga cara memperoleh informasi. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan risiko ketergantungan terhadap teknologi.

Hal itu disampaikan Hanter Siregar, SH, dalam diskusi bertema “AI, Manusia, dan Batas-Batas Ketergantungan Teknologi” yang dimoderatori Kristina Purba, S.Pd.

Menurut Hanter, persoalan utama di era AI bukan lagi sekadar mendapatkan informasi, tetapi memastikan informasi tersebut benar dan dapat dipercaya.

“Stop, share, cek dulu. Periksa sumbernya, kapan dibuat, sumber aslinya, serta data dan bukti yang mendukung”, ujar Hanter.

Ia menilai AI seharusnya digunakan sebagai alat bantu sekaligus partner untuk menguji pemikiran, bukan menggantikan kemampuan manusia dalam mengambil keputusan.

Hanter mencontohkan penggunaan Google Maps. Seseorang yang sudah mengenal suatu jalan bisa saja mengetahui arah yang benar, tetapi memilih mengikuti aplikasi meski petunjuknya berbeda dengan pengalaman sendiri.

“Jangan sampai AI yang awalnya kita gunakan sebagai alat bantu justru secara perlahan mengambil alih kemampuan kita untuk menilai”, katanya.

Dalam diskusi tersebut, sejumlah peserta juga menyampaikan pandangan. Alboin Samosir, Hendra Sinurat, dan Friska Liska Sihombing turut memberikan perspektif mengenai perkembangan AI, perubahan perilaku manusia, serta pentingnya kemampuan menyaring dan memverifikasi informasi.

Pembahasan juga dikaitkan dengan film Mickey 17, yang mengangkat pertanyaan mengenai identitas manusia ketika manusia dapat diciptakan kembali berdasarkan data dan ingatan.

Hanter menilai manusia tidak hanya dibentuk oleh data, tetapi juga pengalaman, hubungan, emosi, konteks dan kebijaksanaan yang diperoleh sepanjang kehidupan.

Menurutnya, tantangan AI akhirnya bukan hanya soal apakah manusia menjadi lebih atau kurang cerdas, tetapi manusia seperti apa yang akan dibentuk ketika hidup berdampingan dengan AI.

“AI seharusnya memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikannya. Tantangan terbesar AI mungkin bukan apakah teknologi dapat berpikir seperti manusia, melainkan apakah manusia masih bersedia berpikir sebagai manusia”, pungkasnya. ( TB ). 


Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *